Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ternak kambing sukses tanpa modal

kandang-kambing

Saya sedang menjalani usaha ternak kambing di salah satu desa di Kabupaten Boyolali. Bisa dibilang desa saya sangat terpencil, jauh dari kota kabupaten dan sudah memasuki perbatasan Kabupaten Grobogan. Namun disitulah kunci kesuksesan untuk mengembangkan usaha ternak kambing saya, karena ketersediaan pakan yang tidak pernah habis. Di lingkungan sekitar banyak sekali tersedia pakan untuk kambing. Rumput, daun-daunan hijau lainnya sangat melimpah.

Bagaimana memulai ternak kambing ?


Banyak teman saya menyarankan saya untuk membeli kambing minimal 100 ekor agar hasil yang dicapai bisa maksimal. Namun untuk membeli kambing 100 ekor membutuhkan modal yang besar. Apalagi saya baru mau memulai ternak, tingkat keberhasilannya belum bisa di lihat. Meskipun hitungan di atas kertas sangat menggiurkan, tapi tidak semudah yang kita kira ferguso..hehe

Berdasarkan pengalaman juga, saya bertekad untuk memulai ternak dari satu ekor yang nantinya harus menjadi 100 ekor. Waktu itu saya mulai mencari jenis kambing yang bagus di pasar hewan Juwangi. Akhirnya dapat kambing dengan harga Rp. 800.000,- masih kecil sih, kalau ditempat saya namanya cempe.

Keuntungan lain selain harganya murah, penyediaan pakan juga tidak terlalu banyak. Satu keranjang rumput bisa untuk dua hari. Namun, bisikan teman-teman untuk memiliki kambing banyak masih kenceng terdengar di telinga. Kalau mengikuti saran dan omongan teman-teman, itu artinya saya harus menyekolahkan sertifikat tanah milik babe ke bank.

Wah wah.. tidak kebayang gimana reaksi babe, pasti beliau akan bilang "Sertifikat tanahku sudah pinter, gak perlu disekolahin lagi" sambil berkacak pinggang dan nada suara meninggi.

Kunci dari semua ini adalah kesabaran, kalau tidak sabar, tidak akan mendapat hasil maksimal. Empat bulan berlalu, kambing saya mulai menunjukkan pertumbuhan yang lumayan pesat. tentunya tidak hanya saya berikan rumput saja. Setiap pagi, saya beri nutrisi katul dan buah. (padahal yang punya jarang makan buah).

Dalam waktu empat bulan itu, kambing saya sudah ditawar sama pedagang langganan babe sebesar 2 juta rupiah. berbekal tekad untuk mengembangkan kambing dari satu ekor menjadi 100 ekor, Akhirnya saya jual, selang satu minggu kemudian, saya beli lagi dua ekor dengan total harga Rp. 1.600.000,-. lumayan lah ya, selama 4 bulan dapat sisa penjualan 400 ribu.

Jenis kambing untuk penggemukan.


Oh iya, jika kalian juga ingin bertenak dengan cara ini, pilih kambing jantan ya, jangan beli kambing betina. Kambing jantan harga jualnya tinggi dan proses penggemukannya lumayan cepat. Saya membeli kambing jenis Bligon atau bisa juga jenis PE. Sebenarnya jenis kambing tidak terlalu berpengaruh, tergantung ramainya pasaran di daerah dimana kita ternak.

Rata-rata tetangga memelihara kambing jenis kambing kacang. Ukurannya lebih kecil, warna dominan coklat, daya tahan terhadap lingkungan, suhu, dan pengaruh eksternal lainnya bisa diandalkan. Kenapa ? Karena jenis kambing kacang ini adalah kambing lokal yang sejak nenek moyangnya dulu sudah biasa menyesuaikan dengan kondisi alam di Jawa.

Singkat cerita, selang 4 bulan kemudian, kambing saya ditawar pedagang lagi, masing-masing ditawar seharga Rp. 2.100.000,- Wah kok ditawarnya murah sekali pak, gak bisa 2,5 juta per ekor? itu trik saya untuk ngomong ke pedagang, padahal dalam hati saya sudah seneng, sudah laku segitu. 

Uang 4,2 juta pun mampir di dompet saya. dua minggu kemudian, saya ke pasar lagi untuk membeli 4 ekor kambing dan dapat total harga 3,6 juta. Iya kali ini saya tidak membeli cempe, tapi kakaknya cempe. Sampai saat ini, kambing saya sudah jadi 4 ekor dalam waktu 9 bulan.

Mungkin itu dulu yang bisa saya bagi, di tulisan selanjutnya akan saya bagi cerita bagaimana membuat manajemen beternak kambing dari nol sampai sukses bisa mendapatkan penghasilan setiap bulan.

Terima kasih, Salam embekk .

Posting Komentar untuk "Ternak kambing sukses tanpa modal"